![]() |
| Golden Money Managemen by IIBF |
Walaupun
dalam mendeskripsikan tentang apa itu kaya, setiap orang bisa berbeda-beda, ada yang
mengatakannya hidup berkecukupan, ada juga yang mendefinisikan tidak mempunyai hutang,
adapula yang asal kaya hati, tetap saja kaya, dan masih banyak lagi.
Siapa sih
yang mau hidup miskin? miskin harta atau miskin hati, pasti semua kompak jawab
gak ada. Ini merupakan suatu hal yang menarik, setiap orang mengingikan menjadi
kaya, banyak jalan yang bisa di tempuh, seperti yang saya dapatkan dari sebuah
acara yang Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) adakan beberapa waktu yang
lalu, kaya dan miskin hanya dibatasi oleh sekat tipis yang namanya prilaku dalam
mengelola setiap income atau pendapatan yang masuk.
Kali ini saya akan berbagi apa yang saya dapatkan
dari Presiden IIBF Ir. Heppy Trenggono, M.Kom dalam sebuah workshop, sebuah rahasia
yang akan mengantarkan sahabat pejuangan sekalian menjadi orang yang kaya, bahkan
seandainya hari ini sedang dalam kondisi yang sulit sekalipun, hidup hanya dari
hutang, namun jika hal-hal ini ada lakukan end
of teh game anda akan menjadi menjadi orang kaya yang sesungguhnya. Bahkan jika hari ini anda sedang dalam kondisi sulit sekalipun, hidup dari
hutang, namun jika hal-hal ini ada lakukan dan menjadi kebiasaan anda, pada
akhirnya anda akan menjadi orang yang kaya sesungguhnya.
Penasaran apa yang akan membuat segera
anda sukses dan kaya raya?
Sahabat, salah dalam
mengelola keuangan akan berakhir nestapa meskipun hari ini kita memiliki
penghasilan yang besar sekalipun. Masalahnya bukan saja terletak pada penghasilan
yang besar atau kecil, tapi kebiasaan hidup yang lakukan, dari gaya hidup hingga salah dalam mengelola keuangan. Maka IIBF
mengajarkan bagaimana mengelola keuangan agar berakhir menjadi orang kaya.
Dari income yang masuk lakukanlah pembagian sebagai berikut :
1. Giving minimal 10 persen
Umumnya sebagian besar orang menempatan hal ini bukan dalam pos utama malah diakhir, itu juga kalau ada sisa.
Mulai hari ini pastikan setiap mendapat income pertama kali sisihkan 10 persen minimal untuk berbagi. Ini bukan strategy tetapi ini adalah wujud syukur kita bagaimanapun kondisi Kita. Mengambil tanggang jawab lebih dibandingkan yang lainnya.
Berbuat baik juga perlu dibiasakan kenyataannya memberi juga butuh dilatih.
Orang yang masih mau menolong orang lain tidak mungkin hidupnya susah.
2. Saving 10 persen
Apa yang akan terjadi didepan tidak ada yang tahu. Bisa saja menjumpai tikungan yang tajam, mendaki terjal bahkan jalan berlobang, kalau tidak memiliki suspensi saat menjumpai lobang kecil sekalipun bisa berakibat fatal buat pengendara.
Tabungan ibarat suspensi dalam kendaraan. Kita bisa gunakan sebagai dana cadangan untuk sesuatu yang tidak terduga maupun untuk mengeksekusi peluang usaha yang hadir. Selain itu banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan dengan membangun budaya ini.
3. Family 5 Persen
Banyak orang ketika memulai membangun usaha dengan harapan mampu memberikan kehidupan yang lebih baik terhadap keluarga. Namun seiring berjalananya waktu tidak jarang justru kepentingan keluarga malah terabaikan, dinomer duakan setalah urusan bisnis. Bahkan untuk sekedar liburan bersama saja sangat sulit baik waktu bahkan budgetnya akibat kalah prioritas dari yang lain.
Supaya itu tidak terjadi dan Sahabat bisa memberikan yang terbaik untuk melayani keluarga, segera potong 5 persen dari setiap income yang masuk. Secara prosentasi masih bisa dirubah, silahkan disesuaikan dengan income masing-masing, kalau 5 persennya sudah sangat kebesaran juga bisa dikurangi yang penting pos ini harus tetap ada.
Buat perencanaan anggaran dan waktu liburan. Dana inilah yang akan Sahabat gunakan untuk mengajak keluarga, sanah saudara untuk jalan-jalan menikmati hasil kerja keras.
Bahkan dalam kondisi bisnis sulitpun, dengan pola ini insyaAllah kita tetap bisa melayani keluarga dan kesulitan bisnis tidak akan menyentuh kehidupan anak-anak dan istri kita.
Bila ini kita sudah punya pos khusus untuk keluarga, berlibur bersama keluarga bisa kita lakukan tanpa menggangu dana yang lainnya.
4. Necessity 75 Persen
Mengacu pos inilah semua kebutuhan hidup keluarga, perusahaan termasuk didalamnya membayar hutang, karyawan, dll kita budgetkan.
Biasaya ini yang kita dulukan, sehingga kita tidak punya tabungan, tidak bisa berbuat lebih banyak terhadap orang lain termasuk melayani keluarga kita sendiri.
"My Family is My Number One Client" seharunya inilah moto yang kita bangun dalam kehidupan keluarga dan bisnis kita. Jangan dibalik!!
Ada tips menarik dari sharing beberapa peserta dalam wokshop di IIBF, bahwa untuk membangun mentalitas dan kebiasaan tersebut dalam mengelola uang, dari yang sangat konvensional hingga terobosan untuk membangun keluarga dan anak-anaknya, yaitu dengan menyiapkan empat tabung yang masing-masing bertuliskan Giving, Saving, Family dan Necessity. Saving dan Family dia gembok sedang untuk Necessity dan Giving dia biarkan terbuka. Nice idea. Itulah membangun mentalitas.
Dengan pola ini sangat membantu dalam mempertanggung jawabkan kehidupan kita. Family dan Necessity adalah wujud dari tanggung jawab kita terhadap kehidupan hari ini. Saving adalah wujud tanggungjawab kita terhadap hari esok dan Giving adalah wujud dari tanggungjawab kita untuk hari akhir.

Komentar
Posting Komentar