Langsung ke konten utama

70 persen Pengusaha itu Financial Incompetence?

Ilustrasi Kegagalan
Sahabat Pejuang sekalian....

Tidak sedikit antara kita yang mengawali niat menjadi pengusaha karena mengharapakan kehidupan yang lebih baik untuk diri dan keluarga, membantu orang lain dengan membuka lapangan pekerjaan ingin tidak terikat waktu alias lebih bebas, serta berbagai alasan kebaikan lainnya.
Menurut pak Heppy Trenggono apapun alasan yang melatar belakangi kita memilih jalur wirausaha beliau berpesan agar diantara alasan itu pastikan bahwa salah satu motivasinya adalah menjadi lebih kaya.

Sayangnya, berbagai cita-cita mulia membangun usaha urung tercapai malah sebaliknya usaha yang dibangun menjadi persoalan baru dalam hidupnya. Bukannya bisnis yang menservice keluarga justru sebaliknya, keluarga yang menservice bisnis, anak dan istri harus banyak mengalah soal waktu karena sibuk dengan bisnisnya, serta persoalan lain.

Mengapa banyak pengusaha yang gagal mencapai kesuksesannya?

Menjawab hal itu, Presiden IIBF itu menjelaskan sebagian besar pengusaha tidak memahami angka-angka dalam bisnis, Financialy Incompetence.



Lalu apa yang mengakibatkan 70 persen Pengusaha itu Financial Incompetence?
Beberapa penyebab yang disampakainya adalah

1. Tidak mengetahui bahasa dan istilah dalam bisnis
Layaknya dalam sebuah pertandingan bola, banyak sekali istilah yang digunakan. Dalam permainan Sepak Bola misalnya, ada handsball, corner kick, pinalty, offside, dll.
Demikian juga bisnis, punya bahasa tersendiri, OCF, FCF, Inventory, AR, AP, EBIDA, COGS, dan lain sebagainya. Kesalahan dalam memahami ini bisa berakibat fatal bagi usaha yang sedang kita geluti.
Kita fikir Goal terus ternyata offside.
Bahasa permainan sesungguhnya adalah mewakili sebuah konsep berfikir tertentu.


2. Gagal dalam melihat dan memahami hal-hal esensial dalam bisnis
Ibaratnya menerbangankan pesawat terbang, banyak sekali panel-panel dalam kokpit nya sehingga kita harus tahu mana yang harus selalu dalam pengawasan jika tidak pesawat akan jatuh. Bisnis juga begitu, semakin besar dan banyak cabang, size semakin besar selain persoalan yang dihadapi juga semakin rumit, panel-panelnya juga semakin banyak, sehingga sebagai entreprenenurs kita di tuntut memiliki keahlian layaknya menerbangkan pesawat terbang tadi, tidak lagi sedang membawa sepeda motor.

3. Tidak memiliki cukup kesadaran dalam membangun kekayaan.


"Barang Siapa dengan tidak sadar membangun Kekayaan, kemungkian besar tanpa sadar dia sedang membangun kemiskinannya"
- Heppy Trenggono - 

Tidak ada yang mudah dalam membangun, butuh perjuangan yang menuntut pengorbanan. Jika kita tidak menyadari ini sejak awal, kemungkinan besar ketika terjadi turbulensi dalam perjalanan bisnis akan mudah menyerah.
Orang kaya membayar premi di depan yaitu dengan kerja keras, kesungguhan, mau menahan diri untuk tidak segera menikmati, sedangkan orang miskin bayar preminya di belakang.
Agar kita tidak mengikuti jejak langkah kegagalan yang lain, segera persiapkan diri Anda dari sekarang menjadi pengusaha yang juga memiliki kompetensi keuangan bukan untuk menjadikan anda seorang akuntan, tetapi untuk memahami setiap angka yang muncul dari bisnisnya anda dan sudah barang tentu juga harus di dukung dengan kemampuan jualan yang tokcer. Bisa jualan namun tidak bisa mengelola uang dengan baik, bisa bernasib lebih tragis dari sebelumnya. Bisa mengelola uang namun tidak memiliki skill jualan, apa yang mau diatur. Miliki keduanya. Jadilah pengusaha yang sukses.
Bagaimana IIBF mengajarkan pengusahanya mengelola uang, akan saya bahas dalam tulisan yang lain.
Salam,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Money Management

Golden Money Managemen by IIBF Kaya dan bergelimpangan harta, siapa sih yang gak mau? pasti semua orang memimpikannya waktu kecil hingga beranjak dewasa, bahkan yang sudah dewasa dan menjadi orang tua pun masih tetap memimpikan suatu saat nanti akan bisa kaya. Walaupun dalam mendeskripsikan tentang apa itu kaya, setiap orang bisa berbeda-beda, ada yang mengatakannya hidup berkecukupan, ada juga yang mendefinisikan tidak mempunyai hutang, adapula yang asal kaya hati, tetap saja kaya, dan masih banyak lagi.

Nenek Sarinem

Pada suatu pagi saya diajak jalan-jalan Rich Dad menikmati matahari pagi, pemandangan pegunungan, deru air terjun yang berlomba sampai ke dasar tebing di sekitaran lokasi kami menginap. Berhentilah kami memandangi sebuah warung kecil, pintu masih tertutup dengan gembok menempel di gagang pintu nya. Saya bertanya jam berapa warung ini akan buka, dulu sekali kami pernah kesini lebih pagi namun sudah melayani setiap pembeli yang datang pada seorang lelaki paruh baya yang datang menghampiri dengan sarung terselempang dan kupluk di kepala, khas daerah dingin.

How To Be Debt Free : 6 Kesalahan Terbesar Pengusaha

Sahabat Pejuang sekalian... Semoga hari ini sahabat sekalian berbahagia selalu. Saya ingin menuliskan kisah perjalanan kebangkitan hidup dan binsis dari seorang pengusaha yang sangat fenomenal di Indonesia. sebuah kesempatan langka bisa banyak memimba ilmu dari yang bersangkutan, beliau adalah Ir. H. Heppy Trenggono, M. Kom. Inspirasi perjalanan dalam membangun bisnis dan kehidupan tertuang dalam sebuah workshop "How to be debt Free" atau Bagaimana Lepas dari Lilitan Hutang. Heppy Trenggono, dulu pernah terlilit hutang hingga 62 miliar dan Alhamdulillah bisa terlepas  dan bahkan meloncat menjadi triliuner dalam waktu relatif singkat.  Beliau memberikan trik dan teknik melunasi hutang hutang yang cukup besar ini.  Biografi beliau nanti kita bahas terpisah, bahkan sudah ada yang membukukan "10 pengusaha sukses yang membangun bisnis dari nol", silahkan cari sendiri bukunya, kalau tidak salah terbitan Gramedia. Selamat mempelajari materi busines yang luar bias...