Langsung ke konten utama

Membuat yang biasa-biasa Menjadi Bernilai


Merajut Silaturohim Sahabat Pejuang Jawa Timur
Tuban, Jawa Timur – Riuh rendah semangat sahabat pejuangan dari berbagai penjuru Jawa Timur untuk bisa menghadiri konsolidasi gerakan beli Indonesia dan IIBF sangat jelas terlihat. Terlihat di group-group WA, sejak dini hari pukul 02.00 wib sahabat perjuang dari Banyuwangi, Jember, Tulunggagung, Trenggalek, Situbondo, Madiun, Malang, Blitar, Kediri, Bojonegoro,Pasuruan, termasuk Surabaya dan Gresik sudah mulai mempersiapkan diri menuju bumi para wali, Tuban. Tempat yang disiapkan oleh pengurus IIBF Tuban bahkan hingga tidak mampu menampung 200 kader yang hadir, bahkan membeludak hingga luar ruangan. 

Pertemuan seperti ini sangat penting dalam sebuah gerakan seperti IIBF dan Beli Indonesia ujar Teguh Riyanto, Sekjen IIBF, bahwa harus saling menjaga semangat satu dan yang lainnya, maka di IIBF dikenal ada Leader Forum (LF) tujuannya kearah sana. “mumpung hari ini Presiden IIBF hadir di Tuban, saya undang sahabat sekalian, dan akan kita minta nasehat-nasehat beliau agar kita tidak semata hanya menjadi pengusaha yang kuat, namun juga bisa ikut ambil bagian dalam membangun agama dan bangsa”.

Presiden IIBF mengawali dengan sebuah cerita tentang perjalanan seorang perempuan tua renta, rabun serta menderita encok, berpakaian lusuh dan satu-satunya pakaian yang dimilikinya tetapi menjadi tawanan Belanda yang ketika itu dititipkan ke Bupati Sumedang dengan didampingi seorang lelaki tegap berumur 50an tahun dan remasja tanggung berusia 15 tahun. Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja berfikir keras siapa gerangan perempuan itu? Dengan kondisi yang sudah begitu tetapi Belanda masih menawannya. Belanda tidak pernah mengungkapkan identitas perempuan tua itu. Bahkan hingga kematiannya pun masyarakat Sumedang tidak tahu siapa sebenarnya perempuan itu.

Melihat perempuan tua itu taat beragama, Pangeran Aria pun tidak lagi menempatkannya di penjara, melainkan ditempatkan di rumah salah seorang tokoh agama setempat. Dengan kondisi kesehatan yang terus memburuk, kegiatannya pun terbatas hanya berdzikir atau mengajar ngaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung. Masyarakat mengenalnya dengan panggilan Ibu Perbu. Tidak ada yang menyangka bahwa Ibu Perbu adalah “The Queen Of Aceh Battle”, dengan rencong ditangan terjun langsung ke medan perang, tanpa kompromi, tidak bisa menerima tumpah darahnya di injak-injak Belanda yang ingin menjajah. Dialah Tjoet Nyak Dhien. Seorang perempuan tangguh yang memiliki keyakinan bahwa perang bukan hanya hak laki-laki untuk melakukannya, perang adalah hak semua insan, hak setiap individu untuk melakukannya. Karena perang melawan penjajah adalah sebuah kehormatan, sebuah panggilan tertinggi dari Allah SWT.

Sehingga yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa ada seorang ibu rumah tangga, anak bangsawan yang hidupnya terpenuhi toh mau mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk agama, bangsa dan negaranya? Dimana orang-orang seperti itu hari ini? Apa yang membuat orang-orang itu memiliki kwalitas demikian hebatnya. Mudah-mudahan heroisme ini menjadi pengingat bagi bangsa bahwa jiwa dengan spirit seperti itulah yang memerdekakan bangsa Indonesia dari belenggu penjajah. 

“Kita tahu semua orang akan mati, tetapi meninggalnya Tjoet Nyak Dhien yang berjuang melawan penjajah nilainya pasti berbeda dengan orang yang berdiam diri tidak melakukan apapun? Dihadapan siapapun, apakah itu dihadapan Allah, Keluarga, Masyarakat, bangsa dan Negara” tegas Heppy.
Apa yang membuat Tjoet Nyak Dhien berbeda dengan kita. Pertanyaan itulah yang sama harus kita tanyakan dalam diri kita? Allah mengingatkan kita dalam firmannya Qur’an Surat Al Ashr : 1-3, “Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar – benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

Mengapa merugi? Lalu apa pula yang membedakannya? Sebagian besar karena kita salah faham yang kita yakini bernilai itu ternyata bisa tidak bernilai dihadapan Allah, dihadapan manusia, dihadapan bangsa, dihadapan keluarga sehingga kita hanya buang-buang waktu saja. Ini lah permainan hidup jelas Heppy. Tampaknya inilah yang dimiliki oleh Tjoet Nyak Dhien, yang dimiliki oleh orang-orang seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, Tjokroaminoto, Soekarno, Muhammad Hatta dan membedakan dengan yang lainnya yaitu mampu membedakan mana yang bernilai dan mana yang tidak bernilai. 

Sehingga setiap tarikan nafas mereka gunakan untuk melakukan sesuatu yang bernilai. Karena Allah menilai seseorang bukan dari hartanya yang paling banyak, bukan dari yang jabatannya paling tinggi, tetapi karena ketaqwaannya, karena akhlak atau karakternya.

Dalam kontek pengusaha, Heppy mengungkapkan agar menjadikan segala sesuatu itu bernilai, kita usaha itu untuk apa? Apakah semata hanya menumpuk harta atau bentuk pilihan hidup untuk bisa mengambil tanggung jawab lebih dari yang lainnya karena tidak ingin ketinggalan dalam berbuat sesuatu terhadap yang Allah perintahkan? Dengan usaha yang dilakukan kita berusaha menjaga anak-anak kita dari harta yang tidak baik. Itulah cara kita membuatnya menjadi sesuatu yang bernilai dihadapan Allah. Maka dalam kondisi tersulitpun kita akan menemukan kebahagian jika kita dedikasikan untuk Allah semata.

Selain itu dengan perspektif berbeda, Heppy menginginkan kehadiran IIBF, militansi setiap sahabat pejuang akan memerdekaan bangsa indonesia secara ekonomi dari belenggu penjajahan kapitalisme dan liberalisme yang menyengsarakan. Itulah cara IIBF memberi nilai dalam setiap denyut nafas perjuangannya membangun kader dan kontribusi membangun agama dan bangsa.
“Maka tugas kita adalah menjadikan yang biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang bernilai, insyaAllah akan menjadi bernilai dihadapan Allah” pungkas Heppy

Memaknai setiap langkah perjalanan yang dilakukan, kita ikrar kan sebagai wujud perjuangan menggapai keredhoan Allah, karena pada akhirnya waktu yang kita pakai akan kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah. ANS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Money Management

Golden Money Managemen by IIBF Kaya dan bergelimpangan harta, siapa sih yang gak mau? pasti semua orang memimpikannya waktu kecil hingga beranjak dewasa, bahkan yang sudah dewasa dan menjadi orang tua pun masih tetap memimpikan suatu saat nanti akan bisa kaya. Walaupun dalam mendeskripsikan tentang apa itu kaya, setiap orang bisa berbeda-beda, ada yang mengatakannya hidup berkecukupan, ada juga yang mendefinisikan tidak mempunyai hutang, adapula yang asal kaya hati, tetap saja kaya, dan masih banyak lagi.

Nenek Sarinem

Pada suatu pagi saya diajak jalan-jalan Rich Dad menikmati matahari pagi, pemandangan pegunungan, deru air terjun yang berlomba sampai ke dasar tebing di sekitaran lokasi kami menginap. Berhentilah kami memandangi sebuah warung kecil, pintu masih tertutup dengan gembok menempel di gagang pintu nya. Saya bertanya jam berapa warung ini akan buka, dulu sekali kami pernah kesini lebih pagi namun sudah melayani setiap pembeli yang datang pada seorang lelaki paruh baya yang datang menghampiri dengan sarung terselempang dan kupluk di kepala, khas daerah dingin.

How To Be Debt Free : 6 Kesalahan Terbesar Pengusaha

Sahabat Pejuang sekalian... Semoga hari ini sahabat sekalian berbahagia selalu. Saya ingin menuliskan kisah perjalanan kebangkitan hidup dan binsis dari seorang pengusaha yang sangat fenomenal di Indonesia. sebuah kesempatan langka bisa banyak memimba ilmu dari yang bersangkutan, beliau adalah Ir. H. Heppy Trenggono, M. Kom. Inspirasi perjalanan dalam membangun bisnis dan kehidupan tertuang dalam sebuah workshop "How to be debt Free" atau Bagaimana Lepas dari Lilitan Hutang. Heppy Trenggono, dulu pernah terlilit hutang hingga 62 miliar dan Alhamdulillah bisa terlepas  dan bahkan meloncat menjadi triliuner dalam waktu relatif singkat.  Beliau memberikan trik dan teknik melunasi hutang hutang yang cukup besar ini.  Biografi beliau nanti kita bahas terpisah, bahkan sudah ada yang membukukan "10 pengusaha sukses yang membangun bisnis dari nol", silahkan cari sendiri bukunya, kalau tidak salah terbitan Gramedia. Selamat mempelajari materi busines yang luar bias...