Sahabat Pejuangan dimanapun berada saat ini...
Terkadang kita harus berani bertanya bahkan kepada dirimengapa ada orang yang jatuh bermilyar-milyar bahkan hingga triliunan rupiah namun bangkit kembali?
Lalu mengapa ada orang yang menerima warisan bermilyar-milyar namun akhirnya jauh lebih menderita keadaannya?
Itulah pertanyaan yang harus mampu kita jawab berkenaan dengan Kaya dan Miskin. Apakah sebuah keadaan? Ataukah ada rahasia lain yang harus kita ketahui?
Kali ini saya akan membahas tentang kaya dan miskin.
Sahabatku...
Kaya dan Miskin bukanlah sebuah keadaan atau kondisi yang sudah given pada diri seseorang tetapi adalah mentalitas. Orang yang bermentalitas kaya tidak akan pernah meminta sedekah meskipun dia dalam kondisi kekurangan. Sebaliknya orang yang bermental miskin senantiasa merasa kurang meskipun dia dalam keadaan berlimpah materi.
Itulah poin yang disampaikan Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom dalam Workshop HTBDF.
“Jangan pernah menyebut dari anda dhuafa’ karena kalau itu kata-kata itu menjadi identitas maka akan begitulah akhir hidup anda"
Rosulullah SAW adalah contoh pribadi kaya. Bagaimana dia selalu bersedekah dan membantu orang lain dalam keadaan apapun. Bahkan rela menahan laparnya demi memberi makan kepada orang lain. Orang kaya dan orang miskin itu sebenarnya sama saja. Yang membedakannya adalah cara berfikir dan cara bermainnya saja. Soal hutang misalnya, orang kaya dan orang miskin sama-sama memiliki hutang. “Bedanya, orang kaya hutangnya banyak dan orang miskin hutangnya sedikit,”.
Bedanya yang kedua, orang kaya berhutang untuk modal atau investasi sedangkan orang miskin berhutang untuk makan. Terhadap hutangnya itu, dan menjadi beda yang ketiga, orang kaya dapat membayar hutang-hutangnya sedangkan orang miskin tidak bisa melunasi hutang yang sedikit itu.
“Diilihat dari perspektif ini Indonesia lebih mirip ciri orang miskin apa ciri orang kaya kaya?”. Maka, hutang Rp. 1.700 Triliyun tidak lunas-lunas sejak jaman nenek moyang kita sampai hari ini karena jumlah itu banyak buat Indonesia. Padahal jumlah itu tidak ada apa-apanya untuk negara sebesar ini. Demikian juga APBN Rp. 1.200 trilyun itu habis untuk makan dan bayar hutang saja. “Karena begitulah cara bermainnya orang miskin,”. Untuk pembangunan tidak usah ditanya, pasti tidak ada uangnya karena kita bermain kecil dan takut dengan angka besar. Padahal untuk membangun negara sebesar ini perlu puluhan ribu triliyun, angka yang sama sekali tidak terbayang oleh orang miskin. Mengapa tidak terbayang? Karena tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya. Bagi orang kaya angka besar itu biasa-biasa dan sederhana saja karena mereka tahu cara mendapatkannya. Karena orang kaya adalah orang yang memiliki kecerdasan ekonomi. Cerdas ekonomi artinya piawai membangun dan mengelola kekayaan.
Dalam sesi tanya jawab seorang peserta mengangkat tanga dan bertanya. “Pak Heppy, apa pendapat anda tentang modal? Dan mengapa anda tidak memberi modal untuk orang-orang seperti kami dalam membangun ekonomi ummat?” Menanggapi pertanyaan ini Heppy menjelaskan bahwa modal itu adalah hal yang penting dalam membangun bisnis tetapi bukan sesuatu yang paling penting. Modal juga tidak berarti selalu materi.
“Modal adalah sesuatu yang digunakan untuk membuat bisnis kita matang. Jika bisnis itu masakan maka modal itu adalah api yang mematangkan masakan itu. Maka dia tidak termasuk dalam resep,”
Maka jika modal terlalu kecil maka masakan tidak matang, sebaliknya modal yang terlalu besar akan membuat bisnis terbakar. Sehingga soal membangun ummat dengan modal, haruslah dibedakan antara membangun dan sedekah. Di IIBF, Menurut Pak Heppy Trenggono sedekah menjadi bahasa sehari-hari seorang pengusaha dalam menjalankan bisnisnya. Mereka diajarkan untuk mengeluarkan minimal 10% dari keuntungan yang dialokasikan untuk sedekah.
“Tetapi membangun adalah hal yang berbeda dengan giving atau sedekah,”
Membangun atau membina seorang pengusaha, yang dibangun adalah kompentensi dan karakter seorang pebisnis. Salah satu karakter pengusaha adalah disiplin dalam memberi kepada yang membutuhkan bukan meminta-minta.
Mari Sahabat pejuangan sekalian kita persiapkan diri kita mulai dari hari ini untuk tidak menyebut dirinya seorang dhua’afa, karena sebutan itu akan menjadi identitas yang akan menentukan apa dan bagaimana akhir dari kehidupan kita.
“Dhu’afa itu harus kita rasakan ketika kita sedang berdo’a di hadapan Allah SWT, Zat Yang Maha Kaya. Tetapi di hadapan manusia kita harus menjadi orang kaya yang senantiasa memberi dan membantu orang lain,”
Orang yang dapat memberi dengan leluasa adalah orang yang memiliki kekayaan hati dan materi sekaligus. Materi berlimpah tetapi hati atau mental miskin, memberi akan menjadi sesuatu yang sangat berat. Apalagi jika tidak yakin dengan ayat-ayat dan janji-janji Allah. “Karenanya Allah SWT tidak mengukur kehidupan seorang hamba dengan kaya dan miskin tetapi dari lapang dan sempit,” .
Sumber : iibf-indonesia.com
Terkadang kita harus berani bertanya bahkan kepada dirimengapa ada orang yang jatuh bermilyar-milyar bahkan hingga triliunan rupiah namun bangkit kembali?
Lalu mengapa ada orang yang menerima warisan bermilyar-milyar namun akhirnya jauh lebih menderita keadaannya?
Itulah pertanyaan yang harus mampu kita jawab berkenaan dengan Kaya dan Miskin. Apakah sebuah keadaan? Ataukah ada rahasia lain yang harus kita ketahui?
Kali ini saya akan membahas tentang kaya dan miskin.
Sahabatku...
Kaya dan Miskin bukanlah sebuah keadaan atau kondisi yang sudah given pada diri seseorang tetapi adalah mentalitas. Orang yang bermentalitas kaya tidak akan pernah meminta sedekah meskipun dia dalam kondisi kekurangan. Sebaliknya orang yang bermental miskin senantiasa merasa kurang meskipun dia dalam keadaan berlimpah materi.
Itulah poin yang disampaikan Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, MKom dalam Workshop HTBDF.
“Jangan pernah menyebut dari anda dhuafa’ karena kalau itu kata-kata itu menjadi identitas maka akan begitulah akhir hidup anda"
Rosulullah SAW adalah contoh pribadi kaya. Bagaimana dia selalu bersedekah dan membantu orang lain dalam keadaan apapun. Bahkan rela menahan laparnya demi memberi makan kepada orang lain. Orang kaya dan orang miskin itu sebenarnya sama saja. Yang membedakannya adalah cara berfikir dan cara bermainnya saja. Soal hutang misalnya, orang kaya dan orang miskin sama-sama memiliki hutang. “Bedanya, orang kaya hutangnya banyak dan orang miskin hutangnya sedikit,”.
Bedanya yang kedua, orang kaya berhutang untuk modal atau investasi sedangkan orang miskin berhutang untuk makan. Terhadap hutangnya itu, dan menjadi beda yang ketiga, orang kaya dapat membayar hutang-hutangnya sedangkan orang miskin tidak bisa melunasi hutang yang sedikit itu.
“Diilihat dari perspektif ini Indonesia lebih mirip ciri orang miskin apa ciri orang kaya kaya?”. Maka, hutang Rp. 1.700 Triliyun tidak lunas-lunas sejak jaman nenek moyang kita sampai hari ini karena jumlah itu banyak buat Indonesia. Padahal jumlah itu tidak ada apa-apanya untuk negara sebesar ini. Demikian juga APBN Rp. 1.200 trilyun itu habis untuk makan dan bayar hutang saja. “Karena begitulah cara bermainnya orang miskin,”. Untuk pembangunan tidak usah ditanya, pasti tidak ada uangnya karena kita bermain kecil dan takut dengan angka besar. Padahal untuk membangun negara sebesar ini perlu puluhan ribu triliyun, angka yang sama sekali tidak terbayang oleh orang miskin. Mengapa tidak terbayang? Karena tidak tahu bagaimana cara mendapatkannya. Bagi orang kaya angka besar itu biasa-biasa dan sederhana saja karena mereka tahu cara mendapatkannya. Karena orang kaya adalah orang yang memiliki kecerdasan ekonomi. Cerdas ekonomi artinya piawai membangun dan mengelola kekayaan.
Dalam sesi tanya jawab seorang peserta mengangkat tanga dan bertanya. “Pak Heppy, apa pendapat anda tentang modal? Dan mengapa anda tidak memberi modal untuk orang-orang seperti kami dalam membangun ekonomi ummat?” Menanggapi pertanyaan ini Heppy menjelaskan bahwa modal itu adalah hal yang penting dalam membangun bisnis tetapi bukan sesuatu yang paling penting. Modal juga tidak berarti selalu materi.
“Modal adalah sesuatu yang digunakan untuk membuat bisnis kita matang. Jika bisnis itu masakan maka modal itu adalah api yang mematangkan masakan itu. Maka dia tidak termasuk dalam resep,”
Maka jika modal terlalu kecil maka masakan tidak matang, sebaliknya modal yang terlalu besar akan membuat bisnis terbakar. Sehingga soal membangun ummat dengan modal, haruslah dibedakan antara membangun dan sedekah. Di IIBF, Menurut Pak Heppy Trenggono sedekah menjadi bahasa sehari-hari seorang pengusaha dalam menjalankan bisnisnya. Mereka diajarkan untuk mengeluarkan minimal 10% dari keuntungan yang dialokasikan untuk sedekah.
“Tetapi membangun adalah hal yang berbeda dengan giving atau sedekah,”
Membangun atau membina seorang pengusaha, yang dibangun adalah kompentensi dan karakter seorang pebisnis. Salah satu karakter pengusaha adalah disiplin dalam memberi kepada yang membutuhkan bukan meminta-minta.
Mari Sahabat pejuangan sekalian kita persiapkan diri kita mulai dari hari ini untuk tidak menyebut dirinya seorang dhua’afa, karena sebutan itu akan menjadi identitas yang akan menentukan apa dan bagaimana akhir dari kehidupan kita.
“Dhu’afa itu harus kita rasakan ketika kita sedang berdo’a di hadapan Allah SWT, Zat Yang Maha Kaya. Tetapi di hadapan manusia kita harus menjadi orang kaya yang senantiasa memberi dan membantu orang lain,”
Orang yang dapat memberi dengan leluasa adalah orang yang memiliki kekayaan hati dan materi sekaligus. Materi berlimpah tetapi hati atau mental miskin, memberi akan menjadi sesuatu yang sangat berat. Apalagi jika tidak yakin dengan ayat-ayat dan janji-janji Allah. “Karenanya Allah SWT tidak mengukur kehidupan seorang hamba dengan kaya dan miskin tetapi dari lapang dan sempit,” .
Sumber : iibf-indonesia.com
Komentar
Posting Komentar